banner 728x250

Memaknai Sumpah Pemuda, Benny Susetyo : Cintai Kemanusiaan & Hormati Keberagaman

  • Bagikan
banner 468x60

Semarang – Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober telah memasuki tahun ke 94 dalam perayaannya, Sumpah Pemuda yang merupakan salah satu tonggak penting dalam Proses Kemerdekaan Bangsa Indonesia, dalam sumpah pemuda tercermin bagaimana para pemuda yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, budaya, suku dan kepentingan politik mampu mengesampingkan sejenak berbagai kepentingan yang mereka panggul untuk merumuskan suatu kesatuan pandangan mengenai hidup berbangsa dan bernegara yang merdeka, hal ini kemudian terejawantahkan dengan janji dan sumpah untuk bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

Menjelang 100 tahun sumpah pemuda Bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai kenyataan yang merongrong persatuan dan kesatuan yang digaungkan para pemuda pada tahun 1928 tersebut, intoleransi, berita bohong dan fanatisme sempit yang dipertajam oleh politik identitas diperparah dengan adanya pandemi dan resesi yang diperkirakan akan terjadi di 2023.

banner 336x280

Oleh karena Itulah pada Jumat 28 Oktober 2022, ‘Pancasila : Voice of Humanity’ diselenggarakan sebagai refleksi dari momentum sumpah pemuda terhadap kenyataan hidup berbangsa, tentang bagaimana nilai-nilai luhur sumpah pemuda yang tertanam dalam Pancasila seperti penghormatan terhadap keberagaman, gotong royong serta toleransi tidak saja masih relevan namun juga merupakan obat ampuh bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi unsur-unsur yang dapat merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara yang diselenggarakan di Holy Stadium, Semarang dengan dihadiri oleh para pelajar se-Kota Semarang dan Jawa Tengah, organisasi kepemudaan dan organisasi keagamaan ini mengajak kita sebagai bangsa Indonesia untuk kembali kepada nilai luhur Pancasila yaitu kemanusiaan, toleransi dan perayaan keberagaman. Dengan mengundang para tokoh bangsa seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Budayawan Ngatawi Al Zastrow, serta Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, diharapkan Nilai nilai Pancasila dan kemanusiaan tidak hanya dibicarakan sebagai teori dan konsep saja namun juga dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam acara yang dibuka dengan doa lintas agama dan sendratari dari anak-anak yang bertemakan toleransi dan Kebhinekaan ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa ruang-ruang bertemu dan berdialog untuk anak-anak yang berbeda sekolah, agama, dan kelompok harus diperbanyak. Kegiatan bertandang antarsekolah dan antar warga dari rumah-rumah ibadah yang berbeda, mesti terus dilakukan untuk memberikan ruang dialog, sehingga anak-anak saling memahami perbedaan yang ada.

“Dengan ini diharapkan bahwa toleransi tidak hanya bergaung dan dibicarakan namun menjadi hal yang benar benar dipahami dan dihidupi tidak hanya oleh anak anak namun juga orang tua mereka.” tegas Ganjar.

Dalam kesempatan ini, Ganjar juga sempat berdialog di panggung dengan empat orang anak yaitu Oni dan Rosyid, dua anak yang terlibat dalam pertunjukan drama musikal.

“Untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kita harus toleransi kepada teman dan orang lain. Saling menghargai dan menyayangi teman, meskipun beda agama harus tetap toleransi,” ujar Oni dan Rosyid kepada Ganjar.

Dua anak lainnya yang berdialog dengan Ganjar adalah Mikhayla, siswi kelas 4 SD Terang Bangsa, dan Miftahul Falah, siswa SMPN 19 Semarang. Keduanya diminta Ganjar untuk menjelaskan apa itu toleransi. Menurut mereka, toleransi adalah tidak saling menyakiti, tetapi saling menghormati serta saling menolong kepada siapa pun. Tidak peduli apa suku dan agamanya.

“Toleransi itu harus tidak boleh menghina agama orang. Teman sekolah ada yang pernah menghina Saya bilangin, kamu kalau hina agama orang berdosa,” ujar Mikhayla, yang bercita-cita menjadi dokter dan pelukis itu kepada Ganjar.

“Toleransi itu tidak menghina agama lain. Seperti kita sedang ibadah, tidak boleh mengganggu yang lain dan tidak boleh mengejek yang lain. Walaupun kulit hitam, kulit putih harus tetap bersatu,” giliran Falah menjelaskan tentang toleransi kepada Ganjar dan semua pelajar mahasiswa yang hadir di Holy Stadium.

Melihat empat anak yang diajak berdialog itu Ganjar terlihat senang. Menurutnya, itu adalah contoh dari bagaimana model bertemu, berkumpul, dan berdialog dapat membuka wawasan anak tentang perbedaan dan toleransi. Ia pun mengingatkan kepada orang tua dan guru, agar memberikan contoh baik tentang toleransi kepada anak-anak.

“Dari beberapa anak yang saya ajak ngobrol tadi mengerti kok apa itu toleransi. Maka kalau anak sudah mengerti, orangtuanya harus kasih contoh. Kalau orangtuanya bisa memberikan contoh yang baik, maka insyaallah anak-anak akan jauh lebih baik,” pungkas Ganjar.

Dalam kesempatan Selanjutnya Budayawan, Ngatawi Al Zastrow yang hadir virtual melalui aplikasi zoom mengatakan bahwa acara seperti Voice of Humanity merupakan bukti dan pergerakan nyata untuk mengembalikan harkat, martabat manusia dengan mengembalikan dan menjaga kedamaian serta ketentraman di Indonesia.

“Indonesia yang dikatakan oleh seorang ulama Mesir sebagai suatu tempat sangat indah, bagai serpihan surga yang hadir di dunia. Hendaknya keindahannya menyatu dengan keindahan masyarakatnya masyarakat yang dahulu dikenal ramah, pendamai dan penuh sopan santun. Era Digital ini banyak terjebak dalam ujaran kebencian, berita bohong dan Politik identitas, karenanya kita harus kembali kepada Pancasila yang merupakan perajut kebersamaan dan tempat menyatunya perbedaan, walau berbeda kita tetap bersatu dan saling mengayomi demi persatuan dan kesatuan.” tegas Zastrow.

Lebih lanjut, Zastrow menyatakan bahwa Pancasila adalah kanal sekaligus oase dan muara dari unsur-unsur luhur bangsa sekaligus menjadi tempat bagi bangsa ini dalam mencari dan mengadu ketika menemukan problem dan konflik

” Untuk akhirnya dapat mengalir dan menyatukan segala perbedaan untuk menjaga Keutuhan bangsa ini.” jelasnya.

Selanjutnya dalam acara yang dihadiri kurang lebih 7000 orang ini, Staff Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Antonius Benny Susetyo menyatakan bahwa Sumpah pemuda merupakan momen dimana Indonesia mulai menapaki langkah langkah kemerdekaan.

“Langkah yang dicetuskan Kaum muda ini kemudian menjadi dasar Perjuangan kebangsaan yang bermuara pada kemerdekaan Bangsa Indonesia, para Generasi muda merupakan generasi dengan gagasan gagasan segar maka diharapkan generasi masa depan ini tidak hanya mampu ber-ide tapi juga dengan nyata berusaha mengembangkan ide-ide serta gagasan itu demi Indonesia yang lebih baik.” tegas Benny.

Dalam acara yang antara lain diramaikan oleh konser Angklung Simbiosis Jakarta,Klub Merby, komunitas Harapan, Sahabat Difabel, kolaborArt dan Proffesor Band Ini, Benny menyatakan bahwa dalam perkembangan tehnologi yang sangat pesat sekarang Ini diharapkan kaum muda tidak hanya tenggelam dalam perkembangan teknologi saja namun juga mampu membuat dan menampilkan konten-konten positif yang keberadaannya dapat menjadi sarana pemersatu bangsa yang meningkatkan pengamalan nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa.

“Yaitu Pancasila secara nyata hidup, dengan adanya Keseimbangan antara pengembangan tehnologi dan nilai-nilai Pancasila tidak mustahil Indonesia dapat berkembang maju bahkan melebihi negara negara Adidaya seperti Cina, Amerika dan Rusia.” tutur Benny.

“Oleh karena itu hendaknya Pemerintah dan kaum yang lebih dewasa dapat menjaga dan mengembangkan Potensi besar yang dimiliki kaum muda Ini sehingga nanti negeri Ini diwarisi tidak hanya oleh generasi yang melek teknologi saja, namun juga diseimbangkan dengan generasi yang menjiwai nilai-nilai Pancasila dengan mencintai Kemanusiaan dan menghormati keberagaman.” tutup Benny dalam acara yang juga menghadirkan kegiatan pasar murah, donor darah dan potong rambut gratis ini.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close