banner 728x250

Stafsus BPIP : Pentingnya Rawat Kebhinekaan & Tegakkan Nilai-Nilai Pancasila dalam Hadapi Pemilu

  • Bagikan
banner 468x60

Malang – Sebagai negara demokrasi, Pemilu merupakan suatu keniscayaan. Namun dalam perayaan keberagaman, pandangan politik tersebut masyarakat juga kembali dihadapkan pada kenyataan munculnya kembali narasi perpecahan dan tantangan terhadap kebhinekaan. Kenyataan tersebut menyebabkan terjadinya dinamika demokrasi yang tidak baik dalam masyarakat.

Karena itu pemilu bukan lagi pertarungan ide namun pertarungan identitas. Kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah. Fakta tersebut juga diwarnai dengan perkembangan teknologi dimana Artificial Intelegence (AI) makin marak. Keberadaan AI tersebut memberi ruang dan makin mengembangkan potensi pembuatan berita bohong, realita yang berlebihan serta konten-konten negatif yang memperparah proses demokrasi dan lebih lanjut mengancam persatuan dalam keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.

banner 336x280

Dengan latar belakang itu, Gerakan NKRI Sehat bersama unsur pendidik dan mahasiswa di Malang dan sekitarnya mengadakan diskusi publik bertajuk Merawat Keberagaman. Harapannya para peserta dalam menghadapi Pemilu sepenuhnya sadar dan mengerti bahwa keberagaman bukan hanya merupakan keniscayaan, namun merupakan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai negara yang besar.

Oleh karena itulah kita harus senantiasa dapat merawat keberagaman dan bijaksana dalam menggunakan Artificial Intellegence, hingga tidak terjebak dalam narasi negatif, berita bohong dan realitas yang berlebihan. Acara yang diselenggarakan pada Sabtu 19 Agustus 2023, di Pusat Pengembangan Karir dan Alumni Universitas Brawijaya Malang ini, mengetengahkan staff khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Dr. Antonius Benny Susetyo sebagai pembicara.

Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo menyatakan dalam paparannya bahwa pemilu adalah bukti bahwa demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak tiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.

“Setiap warga negara dipersilakan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan memimpin bangsa Indonesia. Karena itu hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan, dan mulai bisa memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak, kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama rakyat dan pemilih.” tegas Benny.

Benny mengajak masyarakat melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan, yaitu mereka yang menghormati keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan.

Lebih lanjut, pada acara yang dihadiri 50 orang itu, Benny menyatakan bahwa kita harus meneliti dengan baik dan objektif mengenai siapa yang kita pilih, terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan. Bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk politik identitas.

“Suka atau tidak, kita harus menyadari dalam era digital ini sifat buruk bangsa Indonesia benar-benar tergali, kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis. Mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa lalu serta menjadi mereka yang bersumbu pendek.” uhar Benny.

“Mereka tanpa sadar menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu.” imbuhnya.

Benny berharap peserta diskusi publik dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi dan agen pengedukasi dalam upaya penjaga pemilu yang berkualitas.

Lebih lanjut, Doktor Komunikasi Politik itu menyatakan bahwa para pemilih potensial adalah para milenial dan generasi Z yang mencakup 60 persen dari jumlah seluruh pemilih di Indonesia.

“Mereka dan segala keunikannya merupakan potensi besar dalam pemilu, bukan hanya sekedar sebagai pemilih mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial, mampu membuat konten-konten segar yang suka atau tidak sangat efektif dalam penyampaian pesan dan informasi khususnya terkait pemilu dan pesta demokrasi.” kata Benny.

Karenanya, mejurut Benny, kita harus merangkul mereka dan membuat mereka mengerti bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas.

“Menjadi bermartabat berarti mereka benar-benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat dan terhormat, mereka memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan.” ungkapnya.

Dalam kesempatan Ini Benny juga menyatakan bahwa para peserta diskusi publik ini diharapkan menjadi agen perubahan dalam upaya menggaungkan Pemilu cerdas yang dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya. ,

“Mulailah dari keluarga dan komunitas untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih Pemimpin. Misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar-benar didapatkan pemimpin yang benar benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.” tegas Benny.

Staff Khusus dari badan yang dikepalai Profesor Yudian Wahyudi Ini mengakhiri paparannya dengan menyatakan bahwa “Demokrasi adalah suatu proses menjadi, dan karenanya proses demokrasi adalah proses berkelanjutan yang mengkoreksi hal-hal yang salah dalam proses demokrasi tersebut. Maka diperlukan kesadaran etis dari seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir, bertindak dan berelasi.”

“Maka kita akan menjadi bangsa yang besar. Waktunya seluruh warga negara Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman dalam menghadapi pesta demokrasi dengan senantiasa menggaungkan bagaimana pemilu cerdas kepada masyarakat sekitar, karena pada akhirmya berkualitas atau tidaknya suatu Pemilihan umum tergantung kepada masyarakatnya. Jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas. Karenanya kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis. Pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita-cita kemerdekaan. Walau upaya tersebut tidak dapat diraih dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas” tutup Benny dalam acara yang dihadiri oleh dosen, mahasiswa dan guru besar di Kota Malang tersebut.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close